![]() |
| (Sumber: merdeka.com) |
Gaya kepemimpinan Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum Golkar dinilai semakin hari semakin aneh. Itu diungkapkan Wakorbid Pratama Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), saat menanggapi video pengambilan sumpah setia oleh jajaran pengurus DPD Jawa Barat di hadapan Airlangga Hartarto.
Bamsoet menilai, keanehan praktik kepemimpinan Airlangga Hartarto dan para pengikutnya semakin menjadi-jadi, ngawur dan mempermalukan Golkar sebagai partai politik modern berhaluan nasionalis tengahan.
Menurut Bamsoet; dalam setiap agama, sumpah yang diucapkan di bawah Kitab Suci dengan membawa nama Tuhan Sang Pencipta, merupakan sesuatu yang sakral, mulia dan sarat pesan amanah.
"Lazimnya seremoni pengucapan sumpah di muka Kitab Suci itu dilakukan oleh para pejabat di level jabatannya masing-masing, agar yang bersangkutan mengingat dengan sungguh-sungguh amanah yang diberikan melalui jabatan tersebut," ungkapnya.
![]() |
| (Sumber: fajar.co.id) |
Bamsoet berpendapat, apabila dihubungkan dengan situasi riil yang menimpa Golkar saat ini, maka aksi sumpah para pengikut Airlangga Hartarto itu tampak tidak lazim dan cenderung aneh.
"Yang sungguh mengherankan, para pengurus Partai Golkar di Jawa Barat itu juga bersumpah bahwa siapa yang berkhianat atau membuat pengkhianatan terhadap Airlangga, akan mendapatkan laknat," ujarnya.
Bahkan Bamsoet menilai hal tersebut seperti berikrar bersama untuk mendukung berbagai kerusakan organisasi yang telah ditimbulkan Airlangga Hartarto.
"Bagaimana mungkin, Airlangga yang sudah berkhianat terhadap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Partai Golkar, serta berlaku semena-mena misalnya dengan aksi pendudukan sepihak Kantor DPP Partai Golkar, meminta para pengurus Golkar untuk tidak mengkhianatinya?” katanya.
![]() |
| Bambang Soesatyo (Sumber: inews.id) |
Bamsoet juga menilai sumpah tersebut menjadi proporsional dan logis diberikan kepada Airlangga Hartarto apabila Airlangga terbukti sebagai pemimpin yang amanah, menjadi sumber keteladanan, dan bijaksana.
Namun menurut Bamsoet, ini malah sebaliknya. Pemimpin yang telah menimbulkan banyak kerusakan dalam organisasi, malah disumpah atas nama Allah untuk tetap dipilih.
"Sayangnya perilaku mulia sebagai karakter pemimpin itu tidak tercermin pada diri Airlangga saat dia memimpin Partai Golkar semenjak Munaslub 2017. Itu artinya; Airlangga, para loyalis, dan pengikutnya hanya menjadikan agama sebagai alat bagi pemuasan kepentingan kekuasaan politik belaka," ujarnya.
Sumber: akurat.co



Komentar
Posting Komentar