Langsung ke konten utama

Mencegah Cognitive Decline dengan Interaksi Sosial

(Sumber: salamadian.com)

Untuk menghindari datangnya penyakit yang berhubungan dengan otak seperti Demensia, Alzheimer, Parkinson, dan sebagainya; penting agar semua orang memiliki kepedulian dan kesadaran penuh untuk menjaga kesehatan otak atau fungsi kognitif supaya tetap baik.

Dalam urusan menjaga kesehatan otak dan juga fungsi kognitif, Dr. dr. Yuda Taruna, SpS, menyampaikan ada 2 hal utama yang bisa kamu lakukan.

Yaitu, deteksi dini dan menjauhi faktor risiko. Untuk kamu yang masih berusia muda, bisa lebih fokus untuk menghindari faktor risikonya.

"Untuk yang muda-muda, fokus hindari faktor risikonya. Tapi masalahnya, yang jadi persoalan kebanyakan di Indonesia, makanannya tinggi garam, aktivitas fisik semakin berkurang. Dulu, walaupun mau beli makanan gak sehat, harus usaha dulu jalan ke depan. Sekarang kan nggak, makanan diantar sampai depan rumah," katanya.

Dr. dr. Yuda Taruna, SpS (Sumber: akurat.co)

Dokter Yuda juga mengatakan, interaksi sosial juga penting dalam hal menjaga fungsi kognitif. Hubungannya interaksi sosial dengan kemampuan kognitif yang baik sudah dibuktikan dari penelitian yang sudah ada.

"Ada penelitian yang cukup panjang. Hasil penelitiannya menunjukan, seseorang yang aktivitas sosialnya sedikit, itu cenderung cognitive decline lebih cepat. Di penelitian ini, mengambil aktivitas sosialnya itu termasuk rekreasi, makan di luar, bertemu dengan teman-teman, silaturahmi, dan sebagainya. Bukan interaksi yang hanya melalui smartphone," jelasnya.

"Baik lansia yang sehat maupun yang tidak, memang dua-duanya akan decline. Tapi bedanya, satunya datang lebih cepat, yang satu lebih lambat terjadinya. Karena sesehat apapun, kalau penelitiannya sampai 10 tahun lebih, semua yang sehat pasti decline. Jadi, aktivitas sosial penting untuk memperlambat cognitive decline," lanjutnya.

Ilustrasi cognitive decline (Sumber: prod.healthline.com)

Untuk melatih otak dengan cara multitasking, dokter Yuda mengatakan itu bukan sebuah jaminan. Menurutnya, sering menggunakan otaknya bukan sebuah jaminan terhindar dari Demensia atau gangguan fungsi otak.

"Multitasking ini banyak kontroversi. Ada yang bilang sebagai upaya melatih otak. Tapi justru di beberapa studi, orang yang multitasking sebenarnya berisiko. Jadi bukan soal jenis aktivitasnya, tetapi apakah aktivitas itu dilakukan dengan happy atau tidak. Kalau dia multitasking dia happy, mungkin bisa menstimulasi otak," ujarnya.

"Tapi kalau multitasking karena pekerjaan dan merasa sangat terbebani, mungkin bukan soal aspek multitaskingnya, tapi masalah stres pekerjaannya. Pekerjaan yang stres biasanya pekerjaan yang membutuhkan multitasking. Jadi ujungnya, intinya, apakah dia melakukannya dengan happy atau gak. Sama seperti olahraga yang bermanfaat, tapi kalau jalaninnya gak happy? Sama saja," tutupnya.


Sumber: akurat.co

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kurang Aktivitas Fisik Bisa Picu Diabetes Melitus Tipe 2

WharsApp Kembangkan 2 Fitur Baru Menyangkut Pesan Forward

Langka, MacBook Pro Seorang Pengguna Meledak